1
Kesalahan dan Mukzizat
“Perkenalkan nama saya Danu Faisal,
saya berasal dari Cirebon, motivasi saya masuk jurusan ini karena saya tidak
ada pilihan lain dan karena kuliahnya gratis (beasiswa).”
Itu lah perkataan pertamana di saat aku berkenalan dengan teman-teman
sejurusanku. Aku tidak pernah menyangka berada di sini dengan segala
kekuranganku. Sewaktu aku masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah
Menengah Atas (SMA), aku tidak pernah masuk dalam jajaran tiga besar di
kelasku. Aku hanya pernah masuk tiga besar sewaktu Sekolah Dasar (SD) itu pun
hanya dua kali, kelas 2 semester genap dan kelas 6 semester genap. Memang
terasa menggelitik melihat prestasiku yang tidak mengagumkan, akupun tidak
pernah aktif di dalam kelas, karena aku adalah seorang yang pendiam.
Sekalinya
aku mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), aku
hanya bermodalkan doa dan solat tahajud setiap malamnya, mungkin ini hanya
bentuk kecil kasih sayang Allah SWT kepada hambanya yang meminta dengan tulus.
Aku selalu menggap ini semua adalah mukzizat. Entah kenapa ketika aku membuka
hasil SNMPTN, hatiku berdebar-debar seakan-akan aku tidak lulus, karena banyak
teman-temanku yang notabennya pintar tetapi tidak lulus, aku membuka hasil itu
di internet ditemani sahabatku Ridwan, dia telah membuka hasil sehari
sebelumnya dan di terima di Universitas Pendidikan Indonesia di jurusan
Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN).
“wan, aku membuka hasil ini seperti
ingin menghadapi azal karirku.” Keluhku pada Ridwan.
“buka dulu lah, siapa tahu ini
Allah memberimu mukzizat.” Jawab Ridwan.
“Tapi..wan..”
aku kembali mengeluh.
“sudah cepat masukkan no
pesertanya.” Jawab Ridwan seakan kesal padaku.
Akupun
mulai menulis no peserta di web snmptn.ac.id
, belum sempat mengisi semua no pesertaku, tiba-tiba listrik padam di warnet
yang aku sewa ini. Sial, seakan waktu tidak memperbolehkan aku melihat hasil
SNMPN ku.
“wan mati lampu, gimana ini?”
aku berkata dengan kesalnya.
“ya sudah kita pindah warnet yang
tidak padam listriknya.” jawab Ridwan.
Kitapun
membayar kepada operator, dan Ridwan sudah siap-siap memakai helm. Belum sempat
aku menaiki motor, listrik yang tadinya padam sekarang sudah menyala kembali.
“mas..mas listriknya sudah nyala
kembali.” Operator memanggil kami.
Aku
menengok ke Ridwan.
“wan, sial kita di permainkan oleh
listrik.” gemamku pada Ridwan.
“ya sudah kita masuk kembali saja.”
Jawab Ridwan sambil mematikan mesin motor.
Aku
pun masuk kembali ke bilik warnet itu kemudian disusul Ridwan.
“wan kini saatnya aku melihat
nasibku.” Keluhku pada Ridwan.
“hei..kapan kamu berhenti
mengeluh?” Ridwan menjawab dengan kesalnya.
“baik, aku ketik sekarang no
pesertaku.” Jawabku.
Tik..
tik.. tik.. bunyi keyboard yang sedang aku pijit dengan kerasnya, sekeras
jariku yang kaku seakan tak merelakan memberi tahu kepada pada mata kami.
“wan, aku diterima di jurusan
Sastra Rusia Universitas Padjadjaran.” Kataku dengan nada
sedih.
“sudahlah bersyukur, mungkin ini
yang jalan yang terbaik yang di pilih oleh Allah SWT.”
Jawab Ridwan dengan muka ceria.
Lain
Ridwan, lain dengaku. Aku tidak pernah berharap mendapatkan jurusan ini, meski
ini masuk dalam pilihanku tetapi aku lebih berharap mendapatakan jurusan Ilmu
Peternakan. Aku memilih pilihan 1 Ilmu Peternakan, pilihan 2 Sastra Perancis,
pilihan 3 Sastra Rusia, semuanya di Universitas Padjadjaran. Pilihan 2 dan 3
itu pilihan guruku Ibu Isnaeni. Guru yang mengajakku untuk kuliah, beliau
mengajar pelajaran Bahasa Jerman di kelasku. Guru yang selalu memberi motivasi
tinggi kepada siswanya dan aku suka dengan cara beliau mengajar.
“wan, aku tidak mau mengambil
jurusan ini, aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Aku sudah rela masuk
kelas bahasa dengan iklas meski terpaksa dan hasilnya otakku tidak pernah
merespon, otakku merespon pada ilmu eksakta1 wan.”
Keluhku dengan segala penyesalan.
“hei..kamu ini kerjanya mengeluh
terus, kapan bisa maju kalau hidup kamu di habiskan untuk mengeluh dan
menyesal?” Jawab Ridwan dengan tegasnya.
“aku..tak tahu wan.”
Jawabku dengan muka tertekuk.
“sudah print hasilnya lalu lihat
kapan daftar ulangnya, jangan lupa kasih tahu orang tuamu. Kalau kamu kuliah
dengan mendapatkan beasiswa, pasti orang tuamu bahagia mendengarnya.”
jawab Ridwan dengan menghibur.
“baik sahabatku.”
jawabku dengan pura-pura ceria.
Seusai
aku mencetak hasil SNMPTN, kitapun menuju sekolah untuk memberi tahu guru mata
kuliah Bimbingan Konsleting kalau kita lolos. Kita di sekolah tidak lama dan
kemudian pulang. Ridwan mengantarku sampai ke depan rumahku. Aku sembunyikan
kertas hasil SNMPTN itu sampai aku tahu mana yang terbaik buatku melanjutkan
cita-citaku sebagai seorang Polisi atau melanjutkan yang bukan cita-citaku
selama ini yaitu kuliah. Apa lagi dengan jurusan yang asing di telinga dan
pengetahuanku.
“aa..bagaimana hasilnya?”
tanya Mimi2.
“belum tahu Mi, katanya diundur
sampai minggu depan.” Jawabku dengan merahasiakan semua dan
menuju ke kamarku.
“ya sudah berdoa saja ya aa.”
Mimi memberiku semangat.
“iya Mi.”
Jawabku sambil menutup pintu kamar.
Pikiranku
selalu berlomba-lomba antara Polisi atau Kuliah, akupun selalu memikirkan
bagaimana caraku menyampaikan hasil ini kepada Mama dan Mimi, sehingga
kedua orang tuaku bahagia mendengarkannya. Waktuku untuk berpikir hanya 1
minggu sebelum aku mengumumkannya kepada keluargaku. Bismillah..
◄
Bersambung ►
Tidak ada komentar:
Posting Komentar