Jumat, 13 Desember 2013

Ketika Aku Bercermin Pada Kesalahan

1
Kesalahan dan Mukzizat

“Perkenalkan nama saya Danu Faisal, saya berasal dari Cirebon, motivasi saya masuk jurusan ini karena saya tidak ada pilihan lain dan karena kuliahnya gratis (beasiswa).” Itu lah perkataan pertamana di saat aku berkenalan dengan teman-teman sejurusanku. Aku tidak pernah menyangka berada di sini dengan segala kekuranganku. Sewaktu aku masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), aku tidak pernah masuk dalam jajaran tiga besar di kelasku. Aku hanya pernah masuk tiga besar sewaktu Sekolah Dasar (SD) itu pun hanya dua kali, kelas 2 semester genap dan kelas 6 semester genap. Memang terasa menggelitik melihat prestasiku yang tidak mengagumkan, akupun tidak pernah aktif di dalam kelas, karena aku adalah seorang yang pendiam.
Sekalinya aku mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), aku hanya bermodalkan doa dan solat tahajud setiap malamnya, mungkin ini hanya bentuk kecil kasih sayang Allah SWT kepada hambanya yang meminta dengan tulus. Aku selalu menggap ini semua adalah mukzizat. Entah kenapa ketika aku membuka hasil SNMPTN, hatiku berdebar-debar seakan-akan aku tidak lulus, karena banyak teman-temanku yang notabennya pintar tetapi tidak lulus, aku membuka hasil itu di internet ditemani sahabatku Ridwan, dia telah membuka hasil sehari sebelumnya dan di terima di Universitas Pendidikan Indonesia di jurusan Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN).
“wan, aku membuka hasil ini seperti ingin menghadapi azal karirku.” Keluhku pada Ridwan.
“buka dulu lah, siapa tahu ini Allah memberimu mukzizat.” Jawab Ridwan.
“Tapi..wan..” aku kembali mengeluh.
“sudah cepat masukkan no pesertanya.” Jawab Ridwan seakan kesal padaku.
Akupun mulai menulis no peserta di web snmptn.ac.id , belum sempat mengisi semua no pesertaku, tiba-tiba listrik padam di warnet yang aku sewa ini. Sial, seakan waktu tidak memperbolehkan aku melihat hasil SNMPN ku.
“wan mati lampu, gimana ini?” aku berkata dengan kesalnya.
“ya sudah kita pindah warnet yang tidak padam listriknya.” jawab Ridwan.
Kitapun membayar kepada operator, dan Ridwan sudah siap-siap memakai helm. Belum sempat aku menaiki motor, listrik yang tadinya padam sekarang sudah menyala kembali.
“mas..mas listriknya sudah nyala kembali.” Operator memanggil kami.
Aku menengok ke Ridwan.
“wan, sial kita di permainkan oleh listrik.” gemamku pada Ridwan.
“ya sudah kita masuk kembali saja.” Jawab Ridwan sambil mematikan mesin motor.
Aku pun masuk kembali ke bilik warnet itu kemudian disusul Ridwan.
“wan kini saatnya aku melihat nasibku.” Keluhku pada Ridwan.
“hei..kapan kamu berhenti mengeluh?” Ridwan menjawab dengan kesalnya.
“baik, aku ketik sekarang no pesertaku.” Jawabku.
Tik.. tik.. tik.. bunyi keyboard yang sedang aku pijit dengan kerasnya, sekeras jariku yang kaku seakan tak merelakan memberi tahu kepada pada mata kami.
“wan, aku diterima di jurusan Sastra Rusia Universitas Padjadjaran.” Kataku dengan nada sedih.
“sudahlah bersyukur, mungkin ini yang jalan yang terbaik yang di pilih oleh Allah SWT.” Jawab Ridwan dengan muka ceria.
Lain Ridwan, lain dengaku. Aku tidak pernah berharap mendapatkan jurusan ini, meski ini masuk dalam pilihanku tetapi aku lebih berharap mendapatakan jurusan Ilmu Peternakan. Aku memilih pilihan 1 Ilmu Peternakan, pilihan 2 Sastra Perancis, pilihan 3 Sastra Rusia, semuanya di Universitas Padjadjaran. Pilihan 2 dan 3 itu pilihan guruku Ibu Isnaeni. Guru yang mengajakku untuk kuliah, beliau mengajar pelajaran Bahasa Jerman di kelasku. Guru yang selalu memberi motivasi tinggi kepada siswanya dan aku suka dengan cara beliau mengajar.
“wan, aku tidak mau mengambil jurusan ini, aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Aku sudah rela masuk kelas bahasa dengan iklas meski terpaksa dan hasilnya otakku tidak pernah merespon, otakku merespon pada ilmu eksakta1 wan.” Keluhku dengan segala penyesalan.
“hei..kamu ini kerjanya mengeluh terus, kapan bisa maju kalau hidup kamu di habiskan untuk mengeluh dan menyesal?” Jawab Ridwan dengan tegasnya.
“aku..tak tahu wan.” Jawabku dengan muka tertekuk.
“sudah print hasilnya lalu lihat kapan daftar ulangnya, jangan lupa kasih tahu orang tuamu. Kalau kamu kuliah dengan mendapatkan beasiswa, pasti orang tuamu bahagia mendengarnya.” jawab Ridwan dengan menghibur.
“baik sahabatku.” jawabku dengan pura-pura ceria.
Seusai aku mencetak hasil SNMPTN, kitapun menuju sekolah untuk memberi tahu guru mata kuliah Bimbingan Konsleting kalau kita lolos. Kita di sekolah tidak lama dan kemudian pulang. Ridwan mengantarku sampai ke depan rumahku. Aku sembunyikan kertas hasil SNMPTN itu sampai aku tahu mana yang terbaik buatku melanjutkan cita-citaku sebagai seorang Polisi atau melanjutkan yang bukan cita-citaku selama ini yaitu kuliah. Apa lagi dengan jurusan yang asing di telinga dan pengetahuanku.
“aa..bagaimana hasilnya?” tanya Mimi2.
“belum tahu Mi, katanya diundur sampai minggu depan.” Jawabku dengan merahasiakan semua dan menuju ke kamarku.
“ya sudah berdoa saja ya aa.” Mimi memberiku semangat.
“iya Mi.” Jawabku sambil menutup pintu kamar.

Pikiranku selalu berlomba-lomba antara Polisi atau Kuliah, akupun selalu memikirkan bagaimana caraku menyampaikan hasil ini kepada Mama dan Mimi, sehingga kedua orang tuaku bahagia mendengarkannya. Waktuku untuk berpikir hanya 1 minggu sebelum aku mengumumkannya kepada keluargaku. Bismillah.. 

                                                          ◄ Bersambung ►